Tokoh muda seperti Sutan Syahrir, Wikana, dan Chairul Saleh mendesak agar proklamasi segera dilakukan tanpa menunggu instruksi Jepang, karena khawatir kemerdekaan hanya menjadi alat politik Jepang.
Sementara itu, Soekarno dan Hatta tetap ingin mengikuti rencana semula dengan pertimbangan persiapan negara belum matang.
Ketegangan semakin meningkat hingga pada 15 Agustus 1945, golongan muda membawa Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok untuk menekan mereka agar segera memutuskan.
Akhirnya, setelah perdebatan panjang, kedua pemimpin itu setuju untuk tidak lagi menunda.
Proklamasi pun dilaksanakan pada 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta. Keputusan tersebut menjadi titik balik sejarah, menjadikan 17 Agustus sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia yang merdeka. (*)

