Artinya, FOMO bisa menjadi bahan bakar awal, selama diarahkan dengan niat yang baik. Namun, yang sering terlupakan adalah bagian “setelahnya”. Setelah hype mereda, setelah tren berlalu, siapa yang masih bertahan? Nah, di titik itulah FOMO berhenti, dan konsistensi mulai bicara. Yang bertahan bukan yang paling ramai di awal, tapi yang paling setia melangkah saat sorotan mulai padam. Karena yang benar-benar cinta pada sesuatu tidak butuh sorak-sorai untuk terus berjalan. Ia melangkah karena suka, bukan karena dilihat.
Makanya, kalau kamu sedang FOMO terhadap sesuatu entah olahraga, musik, bisnis, atau gaya hidup, nikmati saja prosesnya. Rasakan energinya, pelajari hal barunya, tapi jangan sampai kehilangan jati diri. Jangan memaksa ikut arus sampai lupa arah. Karena yang terpenting bukan soal “ikut tren”, tapi bagaimana kamu memaknai pengalaman itu dan menjadikannya bagian dari perjalanan hidupmu.
Bagi MainBerita, selama FOMO itu membawa arah positif, membuatmu berkembang, menambah semangat, dan tidak merugikan orang di sekitarmu, itu sah-sah saja. FOMO bisa jadi gerbang menuju hal baik, asal kamu tahu kapan harus berhenti membandingkan, dan mulai fokus pada versi terbaik dari dirimu sendiri. Akhirnya, kita semua memang akan “FOMO pada bidangnya”. Ada yang FOMO di musik, olahraga, hobi, karier, bahkan kehidupan sosial. Tapi tak apa. Karena dari situ kita belajar bahwa semangat ikut-ikutan pun bisa berujung pada penemuan diri. Selama dijalani dengan tulus, setiap “ikut-ikutan” bisa berubah jadi “ketertarikan”, dan setiap “ketertarikan” bisa berbuah “konsistensi”.
Jadi, kalau besok kamu merasa ingin ikut sesuatu yang sedang ramai, jangan buru-buru menilai diri sendiri. Mungkin, itulah caramu menemukan hal baru yang selama ini belum sempat kamu coba. Dan kalau pun nanti tren itu memudar, tak apa yang penting kamu pernah jadi bagian dari perjalanan itu. Karena pada akhirnya, bukan soal siapa yang duluan ikut tren, tapi siapa yang paling konsisten menjalaninya hingga akhir.
#SEMUAKANFOMOPADABIDANGNYA

