Letak geografis Jordania dan Irak yang berada di antara Iran dan Israel membuat kedua negara ini menjadi jalur lintasan rudal. Menanggapi serangan itu, sistem pertahanan udara Israel segera bergerak untuk mencegat rudal-rudal tersebut sebelum mencapai sasaran.
Meski sebagian besar berhasil dicegat, sejumlah rudal berhasil menembus dan menghantam wilayah Israel, menyebabkan ledakan besar. Hingga Senin, 16 Juni 2025, laporan resmi mencatat 16 warga Israel tewas dan ratusan lainnya luka-luka.
Namun, media Iran Tasnim mengklaim jumlah korban tewas jauh lebih tinggi, mencapai sekitar 200 orang. Diduga, masih ada korban yang tertimbun di bawah reruntuhan bangunan yang hancur akibat hantaman rudal.
Situasi di kawasan Timur Tengah kini semakin memanas, dengan kekhawatiran akan kemungkinan eskalasi konflik yang lebih luas. Komunitas internasional, termasuk PBB dan sejumlah negara besar, menyerukan gencatan senjata dan meminta semua pihak menahan diri demi menghindari pertumpahan darah lebih lanjut.
Beberapa negara juga telah mengeluarkan peringatan perjalanan dan mengevakuasi warganya dari wilayah yang dianggap berisiko tinggi.
Sementara itu, pemerintah Israel menyatakan akan menanggapi serangan tersebut dengan tegas dan menganggap aksi Iran sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan negaranya.
Ketegangan yang meningkat ini menimbulkan kekhawatiran akan pecahnya perang terbuka antara kedua negara, yang bisa berdampak besar terhadap stabilitas global, terutama di sektor energi dan keamanan regional. (*)

