4️⃣ Menjadi Jembatan Sosial
Perguruan silat sering menjadi ruang berkumpul pemuda, ajang gotong royong, dan forum sosial. Banyak cabang PSHT aktif dalam kegiatan sosial seperti kerja bakti, donor darah, bakti lingkungan, hingga pengamanan acara desa.
Sayangnya, tujuan mulia tersebut seringkali tercoreng oleh perilaku sebagian anggota yang tidak memegang teguh ajaran perguruan. Biasanya terjadi saat perayaan wisuda warga baru, konvoi, atau acara pertemuan besar yang tidak terkendali.
Kurangnya kontrol, emosi yang meledak-ledak, pengaruh alkohol, hingga dendam lama antarkelompok menjadi pemicu bentrok. Hal inilah yang membuat nama perguruan silat, termasuk PSHT, kerap dipandang negatif oleh masyarakat.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa peran pembina, pengurus cabang, hingga senior sangat penting untuk mengendalikan anggota. PSHT yang sejati selalu menekankan “Mulia dalam persaudaraan, tangguh dalam pengendalian diri.”
Selain itu, sinergi dengan aparat keamanan dan pemerintah desa juga wajib diperkuat. Pengurus perlu mendampingi setiap kegiatan, membatasi konvoi ugal-ugalan, dan menindak tegas anggota yang mencoreng nama perguruan.
Di atas kertas, perguruan silat seperti PSHT punya banyak fungsi sosial dan budaya. Namun realitanya, manfaat ini hanya terasa bila seluruh anggotanya benar-benar menjunjung tinggi ajaran dasar: persaudaraan, keadaban, dan pengendalian diri.
Sebaliknya, bila ajaran ini diabaikan, maka yang muncul hanyalah kerugian bagi masyarakat. Karena itu, wajar jika publik menuntut perguruan silat lebih bertanggung jawab agar keberadaannya betul-betul bermanfaat, bukan malah menebar ketakutan.

