Program-program pembangunan yang digagas pada era Orde Baru memiliki dampak luas dan berjangka panjang. Salah satu contohnya terlihat di daerah-daerah, termasuk Blitar hingga Tulungagung, di mana infrastruktur seperti saluran irigasi yang terintegrasi melalui program Lodagung (Ludoyo–Tulungagung) masih berfungsi hingga saat ini. Ini adalah bukti bahwa pembangunan tersebut bukan sekadar narasi, tetapi benar-benar hadir dan memberi manfaat bagi masyarakat akar rumput.
Tentu, sejarah tidak pernah hitam-putih. Setiap pemimpin memiliki sisi positif dan negatif. Namun dalam budaya kita, ada prinsip luhur yang layak direnungkan: “Mikul dhuwur, mendhem jero.” Sebuah sikap untuk meninggikan kebaikan seseorang dan mengubur keburukannya dengan bijaksana, bukan untuk menutup-nutupi, tetapi agar kita mampu menilai secara proporsional dan adil.
Jika kita memilih fokus pada kebaikan, maka yang muncul adalah hal-hal positif. Sebaliknya, jika kita hanya terpaku pada kekurangan, pandangan kita akan terjebak pada satu sisi dan mengabaikan kontribusi nyata yang telah tercatat dalam perjalanan bangsa.
Maka bagi saya, dengan mempertimbangkan pembangunan yang dirasakan rakyat, pencapaian besar pada masanya, serta kontribusi jangka panjang yang masih berdampak hingga kini, Jendral Besar H.M. Soeharto layak mendapatkan gelar Pahlawan Nasional. Sebab pahlawan bukan hanya mereka yang bertempur di medan pertempuran, tetapi juga mereka yang meninggalkan warisan pembangunan bagi generasi setelahnya.

