Lebih lanjut, Slamet tidak menampik bahwa terdapat 53 titik lahan yang dinyatakan gugur atau tidak memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh mitra pelaksana, dalam hal ini PT Agrinas. Meskipun demikian, pemerintah tetap mengejar target agar pada bulan Maret mendatang sudah ada langkah nyata berupa peluncuran proyek percontohan.
“Targetnya Maret ini ada launching dan dari pihak PT Agrinas untuk Tulungagung kayaknya ada 10 pilot project untuk itu,” imbuh pria ramah tersebut.
Kendati sudah mengantongi peta sebaran wilayah yang akan menjadi proyek percontohan, Slamet masih enggan membeberkan secara spesifik desa mana saja yang akan mengawali pembangunan 10 unit KDKMP pertama di Tulungagung. Ia berdalih masih perlu mematangkan koordinasi sebelum data tersebut dibuka ke publik.
“Belum bisa (saya sampaikan), tapi saya sudah punya data,” tegasnya singkat saat ditanya mengenai lokasi pilot project.
Di sisi lain, bagi desa-desa yang hingga kini masih mencatatkan progres nol atau mandek, Slamet mengidentifikasi adanya kendala mendasar pada ketersediaan luas lahan. PT Agrinas mensyaratkan luas lahan minimal 600 meter persegi untuk satu unit gerai, sementara banyak desa yang tidak memiliki aset tanah seluas itu di lokasi strategis.
Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah besar mengingat target total yang harus dicapai adalah 271 unit sesuai dengan jumlah desa dan kelurahan di Kabupaten Tulungagung.
“Ada yang tidak punya lahan, terus lahannya kurang dari 600 meter (persegi), itu harus ada solusi. Karena dari PT Agrinas dituntut untuk target 271 (unit KDKMP) itu harus ada,” bebernya. (dit/ari)

