Mainberita – Perdebatan mengenai dampak kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) terhadap masa depan pekerjaan kian mencuat di tingkat global.
Sebagian kalangan menilai AI mampu menjadi alat bantu yang meringankan tugas manusia, namun kekhawatiran besar muncul bahwa teknologi ini justru berpotensi menggantikan tenaga kerja dalam jumlah masif.
Keresahan itu tergambar dalam survei internasional berjudul Global Public Opinion on Artificial Intelligence (GPO-AI) 2024 yang melibatkan 1.000 responden dari 21 negara.
Riset yang disusun oleh Schwartz Reisman Institute for Technology and Society (SRI) bersama Policy, Elections, and Representation Lab (PEARL) di Munk School, University of Toronto ini tidak hanya menyoroti risiko hilangnya pekerjaan, tetapi juga isu deepfake serta regulasi terkait AI.
Hasil survei memperlihatkan sekitar setengah responden global khawatir pekerjaan mereka—atau orang-orang terdekat—akan hilang digantikan mesin dalam 10 tahun ke depan.
Lebih jauh, mereka menilai generasi mendatang jauh lebih rentan menghadapi dampak otomatisasi ketimbang diri mereka sendiri.

