“Terutama di sekitaran terminal ke arah timur itu di seberang jalan, itu yang saya tahu di situ berlubang-lubang. Kalau teman-teman lewat, bukannya tidak mungkin malah masuk ke selokan,” tegasnya.
Melihat fenomena pembangunan yang seolah abai terhadap kebutuhan difabel, Yuniarsih menekankan pentingnya keterlibatan langsung organisasi disabilitas dalam setiap proses perencanaan pembangunan fasilitas publik agar hasilnya tepat sasaran dan fungsional.
Dia menilai, selama ini pemerintah mungkin memahami kebutuhan masyarakat umum, namun seringkali luput dalam memahami spesifikasi kebutuhan kaum minoritas seperti mereka.
“Tentang pembangunan fasilitas yang ramah disabilitas itu memang dari kami, kaum disabilitas sendiri. Harus ada yang terlibat (agar mengetahui) seperti apa kebutuhan kami,” kata Yuniarsih.
Dia berharap agar ke depan dibentuk tim khusus atau mekanisme koordinasi yang lebih mendalam sebelum proyek fisik dieksekusi. Hal ini semata-mata agar anggaran pembangunan tidak terbuang sia-sia pada fasilitas yang tidak bisa dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.
“Jadi kami mohon itu, mungkin ada trik atau ada satu tim yang nanti lebih bisa mendalami tentang apa-apa yang dibutuhkan teman-teman disabilitas terkait mobilitas dan sebagainya,” tuturnya. (dit/ari)

