Ia juga menambahkan bahwa dalam kondisi minim cahaya, otak manusia cenderung mengisi kekosongan dengan hal-hal yang menakutkan, yang memicu munculnya perasaan tidak nyaman.
Lebih jauh, Alfarizi mengaitkan ketakutan tersebut dengan naluri alami manusia yang secara evolusioner lebih waspada terhadap bahaya di malam hari.
Sikap ini sudah terbentuk sejak zaman dahulu sebagai mekanisme bertahan hidup, dan kini masih membekas dalam cara manusia merespons kegelapan.
Aksi berani dan cerdas dari bocah asal Banyuwangi, Jawa Timur ini, tidak hanya menyedot perhatian karena keberaniannya, tetapi juga karena cara penyampaian yang membumi dan informatif.
Alfarizi menunjukkan bahwa membahas hal-hal mistis bisa dilakukan secara logis dan mendidik. (*)

