Selanjutnya, rombongan mengunjungi Pasarean Pangeranan, tempat peristirahatan terakhir para pemimpin Blitar di masa lalu, termasuk KPH Warsokoesoemo, KPH Sosrohadinegoro, dan KPH Warsohadiningrat. Selain itu, terdapat pula tokoh pendidikan seperti Raden Kartowibowo yang menjadikan kompleks pemakaman ini sebagai saksi bisu sejarah kepemimpinan dan kemajuan Blitar.
Ziarah ditutup di Makam Adipati Aryo Blitar, pemimpin pertama Kabupaten Blitar pada era Kesultanan Demak. Keberadaannya dalam catatan sejarah menunjukkan bahwa Blitar telah menjadi pusat pemerintahan sejak berabad-abad lalu.
Bagi Mas Ibin, ziarah ini bukan sekadar penghormatan, tetapi juga simbol kontinuitas kepemimpinan. Ia berharap Kota Blitar tidak hanya dikenal karena sejarahnya, tetapi juga melalui inovasi dan kemajuan yang terus berkembang demi masa depan yang lebih baik. (*)

