27.7 C
Tulungagung
Friday, April 10, 2026
Home Berita Wisata Capaian PAD Wisata 2025 di Tulungagung Lesu, Hanya Capai 47 Persen dari...

Capaian PAD Wisata 2025 di Tulungagung Lesu, Hanya Capai 47 Persen dari Target

MainBeritaTulungagung – Rencana Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Tulungagung untuk mengoptimalkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) di 2025 menemui jalan buntu. Alih-alih melampaui target, realisasi setoran dari sektor pariwisata justru merosot tajam, bahkan tidak mencapai separuh dari angka yang dipatok.

Data yang dihimpun menunjukkan bahwa dari target yang dibebankan sebesar Rp 1,4 miliar, Disbudpar hanya mampu menyetorkan realisasi sebesar Rp 698 juta hingga tutup buku Desember 2025 lalu. Kondisi ini menunjukkan bahwa performa sektor pariwisata milik plat merah tersebut hanya menyentuh angka sekitar 47 persen.

Kepala Disbudpar Kabupaten Tulungagung, M. Ardian Candra, tidak menampik adanya ketimpangan yang cukup lebar antara target dan realisasi tersebut. Menurut dia, salah satu faktor determinan yang menjadi alasan utama adalah masifnya konektivitas Jalur Lintas Selatan (JLS).

Alih-alih menjadi jalur distribusi wisatawan menuju titik wisata kelolaan pemkab, JLS justru membuka gerbang lebar bagi wisatawan untuk mengeksplorasi destinasi di luar wilayah administratif Tulungagung.

Candra menjelaskan, bahwa terhubungnya JLS dengan kabupaten tetangga memberikan dampak psikologis dan preferensi baru bagi para pelancong. Dengan akses yang kian mudah, wisatawan cenderung mencari alternatif pemandangan atau destinasi baru yang ditawarkan sepanjang jalur sirip selatan tersebut.

“Kalau 2025 kemarin target kami adalah 1,4 miliar. Untuk realisasinya ada Rp 698 juta. Jadi sekitar 47 persen,” kata dia.

Lebih lanjut, pria ramah ini memaparkan, bahwa posisi geografis wisata Tulungagung kini berada dalam pusaran kompetisi yang ketat. Ketersediaan akses yang mumpuni di jalur JLS, membuat destinasi lama yang tidak melakukan inovasi akan mudah ditinggalkan oleh pengunjung, yang mencari suasana baru di perbatasan kabupaten lain.

“Kendala untuk target belum terpenuhi yang pertama, yang terkait dengan faktor akses dengan terhubungnya JLS, yang sudah menghubung dari kabupaten lain. Otomatis banyak pilihan dari pengunjung untuk menikmati wisata-wisata yang ada di sekitar jalur JLS,” imbuhnya.

Menyikapi raport merah di 2025, Disbudpar mengklaim telah menyiapkan sejumlah langkah taktis untuk menghadapi musim kunjungan 2026. Fokus utama yang akan digarap adalah melakukan pembenahan internal pada titik-titik wisata yang dinilai mulai usang. Candra menyebut, berdasarkan evaluasi dan rekomendasi yang masuk, perbaikan fasilitas fisik menjadi harga mati jika ingin kembali dilirik wisatawan.

Dia menambahkan, bahwa selain perbaikan fisik, pihaknya juga akan mencoba mendongkrak angka kunjungan melalui skema penyelenggaraan berbagai acara atau event rutin di lokasi wisata. Hal ini diharapkan mampu menjadi pembeda agar wisatawan tidak sekadar “lewat” di jalur JLS, melainkan singgah dan menghabiskan waktu di destinasi wisata milik Tulungagung.

“Upaya tahun ini dari rekomendasi yang kami terima yang pertama adalah, revitalisasi sarana prasarana di tempat wisata. Kemudian peningkatan event-event di tempat wisata tersebut. Harapannya bisa menarik pengunjung ke tempat wisata kami,” terang Candra.

Tak hanya itu, diversifikasi kegiatan di dalam lokasi wisata juga menjadi agenda yang akan digencarkan tahun ini. Pihak dinas berharap dengan adanya variasi kegiatan, tingkat lama tinggal (length of stay) wisatawan bisa meningkat yang berujung pada naiknya retribusi PAD.

“Kemudian yang ketiga ada kegiatan wisata yang ada di lokasi-lokasi wisata tersebut,” ujarnya. (dit/ari)