Yan Christanto – Mainberita
Ada satu cerita yang belum saya ceritakan kepada pembaca. Sebenarnya, bagaimana seorang Yan Christanto yang lahir dan tumbuh dari suasana desa bisa sampai berjalan melewati jalan-jalan tua di Eropa?
Bagaimana seseorang yang sehari-hari dekat dengan cerita masyarakat, event lokal, dan kehidupan kampung, tiba-tiba bisa berdiri di depan bangunan-bangunan bersejarah yang selama ini hanya dilihat melalui gambar?
Jawabannya bukan karena saya seorang petualang hebat. Bukan juga karena sejak kecil saya punya mimpi besar untuk keliling dunia.
Kadang hidup memang lucu.
Ada pintu yang terbuka bukan karena kita mengetuknya, tetapi karena ada seseorang yang membuka jalan.

Dan bagi saya, pintu itu bernama Royke Lumowa World Cycling
Perjalanan yang dilakukan oleh sosok yang saya kenal sejak tahun 2015, ketika beliau masih menjabat sebagai Kapolda Papua Barat. Beliau adalah Bapak Irjen Pol (Purn) Royke Lumowa.
Bagi dunia sepeda Indonesia, nama beliau bukan nama yang asing. Beliau dikenal sebagai salah satu penghobi sepeda yang bukan hanya sekadar bersepeda untuk olahraga, tetapi menjadikan sepeda sebagai cara untuk mengenal negeri, membangun persaudaraan, dan menantang batas kemampuan diri.
Di tengah kesibukan sebagai seorang perwira tinggi Polri, beliau tetap meluangkan waktu untuk mengayuh sepeda. Bukan hanya rute-rute biasa. Beliau menaklukkan berbagai jalur yang bagi banyak orang mungkin hanya menjadi cerita.
Tanjakan panjang.
Jalan ekstrem.
Rute-rute yang menguji fisik dan mental.
Sepeda bagi beliau bukan hanya alat transportasi.
Sepeda adalah cerita.
Sepeda adalah perjalanan.
Sepeda adalah cara untuk melihat dunia lebih dekat.
Bahkan ketika beliau menjabat sebagai Kapolda Maluku Utara, beliau ikut mendorong lahirnya event sepeda “Tour de Ambon Manise”, sebuah perjalanan yang memperkenalkan keindahan daerah melalui olahraga sepeda.

Dari situlah saya melihat satu hal. Ada seorang yang ketika memiliki jabatan, tidak hanya menjalankan tugas, namun menggunakan perjalanan hidupnya untuk meninggalkan cerita. Dan Pak Royke adalah salah satunya.
Saya masih ingat sebuah kalimat yang pernah beliau sampaikan. “Kalau saya purnatugas nanti, saya akan bersepeda keliling dunia dengan sepeda.” Sebuah kalimat yang waktu itu terdengar seperti sebuah mimpi besar. Sebuah mimpi yang mungkin terdengar mustahil bagi sebagian orang. Tapi entah kenapa, saya justru menjawab santai : “Izin Bapak, Kalau nanti keliling dunia, saya izin ikut Bapak heheheheheehe.”
Waktu itu hanya bercanda. Sambil tertawa. Wkwkwkwk…
Saya juga tidak pernah membayangkan kalau sebuah kalimat iseng itu suatu hari benar-benar menjadi kenyataan. Karena kadang manusia memang sering bercanda dengan masa depan. Tanpa sadar, masa depan sedang mendengarkan. Hingga akhirnya tahun 2023 datang. Kalimat yang dulu hanya menjadi obrolan berubah menjadi sebuah kenyataan. Pak Royke benar-benar mewujudkan mimpinya. Mengayuh sepeda mengelilingi dunia.
Memulai perjalanan dari Jakarta, Indonesia dan memiliki tujuan akhir di Paris, Prancis. Sebuah perjalanan yang bukan hanya tentang jarak. Tetapi tentang keberanian mengejar mimpi yang pernah diucapkan. Di situlah kesempatan datang.
Saya yang hanya seorang anak desa, yang sebelumnya mungkin tidak pernah membayangkan bisa melihat dunia, mendapatkan kesempatan untuk menjadi bagian kecil dari perjalanan besar tersebut.
Siapalah saya.
Saya bukan orang yang punya pengalaman keliling dunia.
Saya hanya seseorang yang beruntung berada di dekat sebuah mimpi besar.
Dan dari perjalanan bersama Pak Royke inilah saya akhirnya bisa melihat Eropa.
Melihat jalan-jalan tua. Menyusuri kota-kota yang selama ini hanya ada dalam buku dan internet. Merasakan bagaimana dunia ternyata begitu luas.
Tapi yang paling penting…
Saya belajar bahwa mimpi itu bisa menular.
Kadang kita tidak harus menjadi orang pertama yang bermimpi.
Kadang cukup berada di dekat orang yang berani mengejar mimpinya.
Karena satu mimpi besar seseorang, bisa menjadi jalan bagi mimpi kecil orang lain.
Dan inilah cerita sebenarnya dari Catatan Papa Desa.
Bukan tentang seorang Yan Christanto yang berhasil keliling dunia.
Tetapi tentang seorang anak desa yang mendapat kesempatan melihat dunia, karena mengikuti jejak sebuah kayuhan sepeda.
Sebuah kayuhan yang dimulai dari Jakarta…
Dan membawa cerita sampai Paris.



