Yan Christanto – Mainberita
Ada kota yang cukup kita lihat lewat foto.
Ada kota yang cukup kita kunjungi sekali lalu selesai.
Tapi ada juga kota yang membuat kita berhenti sejenak, menarik napas, lalu berkata dalam hati:
“Benarkah saya sudah sampai di sini?” Istanbul adalah kota seperti itu.
Setelah sebelumnya berjalan menyusuri jalanan batu tua, gang-gang kecil yang menanjak, dan melihat bagaimana bangunan masa lalu berdampingan dengan kehidupan modern, saya mulai memahami satu hal.
Istanbul bukan sekadar tempat, Istanbul adalah cerita.
Cerita tentang manusia yang datang dan pergi.
Cerita tentang kerajaan yang pernah berjaya.
Cerita tentang pertemuan budaya yang selama ratusan tahun berjalan bersama.
Dan hari itu, saya mendapat kesempatan merasakan sisi lain dari Istanbul.
Bukan hanya sebagai wisatawan.
Tapi sebagai seorang manusia yang ingin merasakan denyut kehidupan kota ini.
—
Hari Jumat datang.
Ada suasana berbeda di jalanan Istanbul.
Orang-orang mulai bersiap menuju masjid. Toko-toko tetap berjalan, kendaraan tetap berlalu-lalang, tetapi ada ketenangan tersendiri yang muncul.
Suara azan terdengar dari berbagai penjuru kota.
Di antara bangunan tua dan jalan yang sudah menjadi saksi sejarah panjang, panggilan untuk beribadah itu terasa begitu dalam.
Saya melangkahkan kaki menuju masjid untuk melaksanakan salat Jumat.
Ada rasa haru yang sulit dijelaskan.
Saya membayangkan…
Dari sebuah desa di Indonesia, dengan segala kesederhanaannya, ternyata langkah kaki bisa membawa saya berdiri di sebuah kota yang dulu menjadi pusat peradaban besar dunia.
Di dalam masjid, saya bertemu banyak wajah.
Ada orang Turki.
Ada pendatang.
Ada para pekerja.
Ada wisatawan.
Kami berbeda bahasa.
Berbeda negara.
Berbeda cerita.
Namun hari itu kami berdiri dalam satu barisan.
Dan saya kembali diingatkan:
Perjalanan jauh bukan hanya tentang menemukan tempat baru.
Kadang perjalanan adalah cara Tuhan memperlihatkan bahwa dunia ini luas, tetapi manusia sebenarnya dekat.
—
Selepas salat Jumat, saya kembali berjalan menyusuri sudut kota.
Dan seperti kebiasaan kecil saya ketika berada di tempat baru…
Saya mencari rasa.
Bukan hanya pemandangan.
Karena menurut saya, sebuah kota paling mudah dikenang melalui aroma, suara, dan rasa yang pernah singgah.
Di Istanbul, salah satu rasa yang wajib dicoba adalah Turkish Coffee.
Kopi Turki. Secangkir kecil yang terlihat sederhana. Namun ternyata menyimpan budaya yang panjang. Kopi ini tidak seperti kopi yang biasa kita minum sambil tergesa-gesa.
Ia seperti mengajak kita berhenti. Duduk. Mengobrol. Menikmati waktu. Rasanya kuat. Aromanya dalam. Dan ada karakter yang berbeda. Mungkin karena kopi ini lahir dari kota yang juga penuh cerita. Saya tersenyum sendiri.
Di Indonesia, kita punya budaya ngopi. Di Turki, mereka punya tradisi menikmati kopi dengan cara mereka sendiri. Ternyata manusia di berbagai belahan dunia memiliki cara yang sama: Mencari tempat untuk duduk dan berbagi cerita. Bedanya hanya meja, cangkir, dan bahasa.

Dari secangkir kopi, langkah saya berlanjut menuju salah satu bangunan paling terkenal di dunia.
Hagia Sophia.
Bangunan yang berdiri dengan gagah di tengah Istanbul.
Ketika pertama kali melihatnya, saya hanya diam.
Ada bangunan yang membuat kita ingin mengambil foto.
Tapi ada juga bangunan yang membuat kita ingin merenung.
Hagia Sophia adalah yang kedua.
Dindingnya bukan hanya batu.
Ia menyimpan perjalanan manusia.
Pernah menjadi tempat ibadah.
Pernah menjadi simbol kekuasaan.
Pernah menjadi saksi perubahan zaman.
Ratusan tahun berlalu, tetapi bangunan ini tetap berdiri.
Seolah ingin mengatakan:
Manusia boleh berganti.
Kekuasaan boleh berubah.
Namun cerita akan selalu tinggal.
Saya berdiri di sana sambil teringat kampung halaman.
Tentang jalan desa.
Tentang orang-orang sederhana.
Tentang mimpi kecil yang dulu mungkin terasa jauh.
Siapa sangka kaki yang biasa berjalan di tanah kampung akhirnya bisa berdiri di depan bangunan yang namanya sering hanya saya dengar dari buku dan cerita.
Saat itu saya merasa: Dunia ternyata bukan hanya milik orang-orang besar. Dunia juga terbuka bagi siapa saja yang mau berjalan.
Istanbul hari itu memberi saya pelajaran. Bahwa perjalanan bukan hanya soal seberapa jauh kita pergi. Tetapi seberapa banyak kita belajar dari tempat yang kita datangi. Dari azan Jumat, saya belajar tentang persaudaraan. Dari secangkir kopi Turki, saya belajar menikmati proses. Dari Hagia Sophia, saya belajar tentang waktu dan jejak manusia.
Dan akhirnya saya sadar…
Kadang kesempatan harus pergi jauh untuk semakin mencintai tempat kita berasal. Karena sejauh apa pun kaki melangkah, selalu ada satu tempat yang membuat hati ingin kembali. Rumah.



