Yan Christanto – Mainberita
Setelah melihat salju pertama turun di Ankara, perjalanan saya berlanjut menuju sebuah kota yang sejak dulu hanya saya kenal lewat layar televisi dan cerita orang.
Istanbul.
Nama yang terdengar jauh, besar, dan seperti ada di dunia lain.
Tapi hari itu kaki ini benar-benar menginjak tanahnya.
Ada rasa aneh ketika pertama kali menyusuri jalanan Istanbul. Bukan karena gedung pencakar langitnya, bukan karena kemewahan kotanya.
Justru saya jatuh hati pada hal-hal kecil.
Jalanan batu tua yang tersusun rapi.
Gang-gang sempit yang menanjak.
Rumah-rumah dengan jendela kayu yang terlihat seperti menyimpan banyak cerita.
Saya berjalan pelan menyusuri tanjakan itu sambil sesekali berhenti melihat sekitar.
Dalam hati saya berkata:
“Dulu di desa saya juga sering berjalan lewat jalan kecil dan gang sempit seperti ini. Bedanya, sekarang latarnya ada di Istanbul.”
Lucu memang.
Kadang kita pergi jauh untuk menemukan sesuatu yang sebenarnya terasa dekat.
Istanbul punya cara unik membuat masa lalu dan masa kini hidup berdampingan. Di satu sisi ada bangunan bersejarah yang usianya ratusan tahun, di sisi lain ada anak muda yang duduk minum kopi sambil sibuk dengan telepon genggamnya.
Kota ini seperti manusia tua yang masih mengikuti zaman.
Ada cerita kerajaan, perdagangan, agama, budaya, dan jutaan manusia yang pernah singgah di dalamnya.
Tapi yang paling saya rasakan bukan tentang sejarah besarnya.
Melainkan tentang kehidupan kecil di dalamnya.
Penjual roti yang menyapa orang lewat.
Orang-orang yang duduk santai menikmati teh.
Suara langkah kaki di jalan batu.
Dan keramahan orang asing yang membuat kita merasa tidak terlalu jauh dari rumah.
Sebagai orang desa, saya selalu percaya bahwa setiap tempat punya jiwa.
Di kampung, jiwa itu ada di warung kopi, sawah, suara kentongan, atau obrolan tetangga di depan rumah.
Di Istanbul, jiwa itu terasa di jalan-jalan kecilnya.
Di antara tanjakan dan batu tua itu, saya sadar…
Dunia ternyata tidak selalu tentang tempat yang megah.
Kadang dunia terasa indah karena kita bisa menemukan cerita di sudut yang sederhana.
Dan hari itu, seorang anak desa akhirnya bisa berkata:
“Selamat datang di Istanbul.”
Bukan hanya Istanbul yang menyambut saya.
Tapi saya juga sedang belajar membaca cerita dari sebuah kota yang sudah ribuan kali menyambut orang-orang dari seluruh dunia.



