Langit selatan Jogja malam itu tidak gelap, namun ia hidup.
Lampu headlamp berkelip seperti gugusan bintang yang turun ke bumi. Debur ombak Parangtritis bersahutan dengan suara sepatu trail yang menghantam pasir. Ribuan pelari dari berbagai penjuru negeri bahkan mancanegara berkumpul dalam satu napas besar bernama ultra trail.

Satu dekade sudah usia Coast To Coast Night Ultra. Tahun ini mereka mengusung tajuk CTC-X — simbol 10 tahun perjalanan yang kian matang, kian megah, dan kian menggoda batas manusia.
Dan di antara ribuan pelari yang datang membawa ambisi, target pace, serta mimpi Personal Best…
Datang satu rombongan kecil dari Tulungagung.
Mereka tidak datang membawa ambisi waktu.
Mereka datang membawa tawa.
Mereka adalah Comedy X Tulungagung.
Dari Tulungagung Menuju Kebebasan, Rombongan Comedy X bergerak pada Jumat malam, 13 Februari 2026 menjelang tengah malam. Outfit mereka selalu sama, bukan demi gaya, tapi demi identitas. Identitas bahwa mereka datang sebagai satu tubuh, satu cerita.
Rombongan yang diwakili oleh Yeyen, Putri, Enggar, Irna, Yan, Ela, Rivco, Chindi, Danny, Ebby, Coach Derry, Zelina, dan Wahyu… memulai perjalanan menjelang tengah malam. Bukan Comedy X namanya kalau perjalanan tanpa cerita. Menjelang Subuh rombongan singgah di Kopi Klotok. Ngopi panjang. Sarapan. Pisang jadi amunisi wajib. Obrolan ngalor-ngidul yang kadang tidak penting, tapi selalu menyenangkan. Karena bagi mereka, race bukan dimulai di garis start. Race dimulai sejak perjalanan.

Setelah mandi dan berkemas ulang, rombongan bergerak menuju Laguna View Depok — pusat Race Village CTC Ultra. Megah. Booth berjejer. Brand nasional hingga internasional hadir. Volunteer sibuk. Musik, sorak pelari, dan aroma kopi bercampur jadi satu.
Racepack diambil… tentu saja bersama-sama.
Setelah itu?
Ya jelas bukan Comedy X kalau langsung pulang.
Satu per satu booth dikunjungi.
Ngobrol panjang. Foto sana sini. Kadang pegang barang… tapi tidak beli.
“Lihat-lihat dulu, Mas…”
Klasik.

Malam Keakraban: Tuker Kado & Tawa Pecah, Perjalanan berlanjut ke penginapan.
Istirahat?
Tidak langsung.
Ada ritual wajib: TUKER KADO.
Setiap anggota wajib bawa kado minimal 25 ribu. Isinya? Bebas. Kadang absurd. Kadang tidak berguna. Tapi justru di situlah letak keseruannya. Kado ditukar acak. Reaksi pecah. Tawa meledak. Villa malam itu lebih mirip panggung sitkom daripada tempat istirahat pelari ultra. Tanpa sadar… Besok mereka race.
Start Lebih Dulu: Hujan & Debut 50K, Sabtu malam, 14 Februari 2026 — pukul 20.00 WIB. Danny menjadi wakil Comedy X di kategori 50K. Seluruh tim mengantar ke garis start. Langit tiba-tiba menumpahkan hujan deras. Headlamp menembus tirai air. Tanah mulai licin. Di tengah guyuran hujan, Danny memulai debut 50K-nya. Tidak ada dramatisasi berlebihan. Hanya tepukan bahu, pelukan singkat, dan satu kalimat: “Finish strong, Bro.” yang di susul pada tengah malam, waktunya Pak Awan dan istri menyusul start pukul 02.00 WIB.

Pukul 03.00 alarm berbunyi di villa. Kesepakatan: 03.30 harus bergerak. Mayoritas Comedy X turun di kategori Ipik-Ipik 15K — start 05.00 WIB. Tidak ada wajah tegang. Tidak ada ritual serius. Isinya? Bercanda. Beberapa membawa walkie-talkie. Bukan buat strategi lomba — tapi buat ngobrol sepanjang rute. Dan tentu saja… Spesialis Sweeper & Logistik: Mr. Yan. Tas besarnya berisi:
- Ransum makanan kecil
- Gel
- Kopi
- Air mineral
- Sampai rokok
Kalau ada yang lapar, haus, atau butuh “asap motivasi”… semua ada.
Di Jalur: Mengejar Cinta, Bukan Pace. Rute aspal dan pasir Parangtritis dilahap… Tapi bukan dilawan. Comedy X tidak berlari mengejar pace. Mereka berlari mengejar kesenangan. Foto-foto. Video. Saling teriak. Saling tunggu. Kadang berhenti hanya untuk memastikan semua masih tertawa. Masuk CP1? Masih utuh. Masih ramai.

Km 9–11: Macet, Tapi Jadi Panggung. Di tanjakan Km 9–11, antrian panjang tak terhindarkan. Pelari menumpuk. Jalur licin. Mood mulai turun. Tapi bukan Comedy X kalau kehabisan akal. Tiba-tiba terdengar teriakan: “KULU-KULU…!!!” Nyanyian massal dimulai. Pelari lain ikut. Suasana yang tadinya tegang berubah jadi festival kecil di tengah hutan. Ada yang merekam. Ada yang tertawa. Tagline spontan muncul: Runner Bantu Runner. Beberapa anggota Comedy X bahkan membantu pelari lain melewati tanjakan licin. Padahal… Di event ultra, waktu adalah segalanya. Ada COT (Cut Off Time). Tapi bagi mereka, finish sendirian tidak lebih penting daripada finish bersama.
Finish: Simbol X di Satu Dekade CTC, Singkat cerita… Satu per satu anggota kembali berkumpul menjelang garis akhir. Tidak ada yang sprint. Tidak ada yang meninggalkan. Mereka masuk bersama-sama. Tangan terangkat membentuk simbol X. Simbol komunitas mereka. Simbol yang kebetulan bertemu dengan tema CTC-X — 1 dekade perjalanan Coast To Coast. Seolah dua semangat berbeda bertemu di satu garis: Kemegahan event. Kebebasan pelari.

Filosofi Start, Run & Finish Together, Pak Ketua — sapaan akrab Yeni Dwianto — menjelaskan alasan konsep itu. Bahwa sebagian besar anggota Comedy X menjalani debut perdana di Coast To Coast Night Ultra. Targetnya sederhana: Semua harus finish. Semua harus bawa medali. “Kalau ini sudah yang kesekian kali, silakan kejar ambisi masing-masing,” ujarnya. “Tapi hari ini… kita selesaikan bareng.” Dan Alhamdulillah — misi itu tuntas.
Bagi banyak pelari trail Elevasi. Jarak. Waktu. Ranking adalah tujuan. Tapi bagi Comedy X… Lari adalah ruang bebas. Ruang untuk tertawa di tengah hujan. Ruang untuk bernyanyi di tanjakan. Ruang untuk membantu orang lain walau waktu terpotong. Karena bagi mereka: Medali itu kenangan. Tapi kebersamaan adalah cerita. Dan sekali lagi mereka membuktikan… BUKAN COMEDY X NAMANYA, KALAU HANYA MENGEJAR JARAK DAN WAKTU YANG HANYA DIANGGAP ANGKA.
URUS DIRIMU!






