Ia menyebut, setiap durian yang tiba di pasar melewati perjalanan panjang dan penuh risiko. Buah durian dipikul oleh kuli penyeberang dengan ongkos sekitar Rp 2.000 per buah, lalu dilanjutkan oleh pekerja “langsir” menggunakan sepeda motor melewati jalur tebing terjal dengan biaya antara Rp 80.000 hingga Rp 150.000 per perjalanan.
Bertaruh Nyawa di Jalur Berbahaya
Di balik proses tersebut, tersimpan risiko besar yang harus dihadapi warga setiap hari. Sherly mengungkapkan, jalur yang dilewati minim pengamanan dan berada di atas jurang puluhan meter, bahkan telah menelan korban jiwa.
Warga setempat rela mempertaruhkan keselamatan demi mempertahankan hidup. Sherly menyoroti sosok kuli panggul bernama Bule yang bertubuh kecil namun terus bolak-balik menyeberangi Krueng Peusangan di tengah hujan deras.
Satu-satunya akses yang bisa dilalui hanyalah “lumpe”, seutas kabel baja yang ditopang bambu, menjadi jalur rapuh yang menghubungkan warga dengan harapan mereka untuk bertahan hidup. (***)

