MainBeritaTulungagung – Persiapan matang terus dilakukan Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Tulungagung menjelang pemberangkatan jamaah haji 2026. Fokus utama saat ini bukan hanya pada kesiapan fisik para jamaah, melainkan juga pada kesigapan para petugas yang nantinya akan menjadi garda terdepan dalam melayani para tamu Allah selama berada di tanah suci.
Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Tulungagung, Suryani, memastikan bahwa seluruh personel yang terpilih melalui seleksi ketat telah menyatakan kesiapannya untuk bertugas. Komposisi petugas ini terdiri dari berbagai unsur, mulai dari pimpinan kloter hingga tenaga medis yang akan disiagakan di setiap kelompok terbang.
“Petugas haji sudah siap. Jadi petugas haji itu kan ada ketua kloter, ada pembimbing ibadah, ada dokter, ada perawat, ada empat orang. Yang dari Kementerian itu ada dua, yakni ketua kloter dan pembimbing,” ujar Suryani saat ditemui di ruang kerjanya.
Ia menjelaskan lebih detail, bahwa untuk wilayah Tulungagung, terdapat jatah enam orang petugas dari unsur kementerian yang akan dibagi ke dalam tiga kelompok terbang (kloter). Keenam orang tersebut saat ini sudah dinyatakan lolos tes persiapan dan segera memasuki tahapan pembekalan lanjutan guna memantapkan koordinasi di lapangan.
“Tulungagung karena tiga kloter itu enam orang petugas haji. Sudah lolos tes persiapan. Untuk bimtek (bimbingan teknis) insya Allah pekan ini. Ada Bimtek enam orang di Surabaya,” sebutnya.
Tak hanya petugas dari unsur kementerian, kesiapan tenaga kesehatan juga menjadi sorotan. Berdasarkan hasil seleksi beberapa waktu lalu, tercatat ada sembilan orang tenaga medis asal Tulungagung yang dinyatakan lolos. Namun, mengingat kebutuhan untuk tiga kloter asal Tulungagung hanya memerlukan enam orang, sisanya kemungkinan besar akan didistribusikan untuk membantu wilayah lain di Jawa Timur.
“Kalau yang kesehatan, beberapa minggu yang lalu sudah ke sini itu ada sembilan orang yang lolos. Sembilan orang berarti nanti butuhnya kan hanya enam. Mungkin yang tiga nanti ditugaskan ke luar kota,” bebernya.
Suryani menambahkan, ada perbedaan skema penugasan antara petugas kesehatan dan petugas dari kementerian. Petugas kesehatan memiliki cakupan tugas di level provinsi, sehingga distribusi personelnya bersifat fleksibel mengikuti kebutuhan di bawah naungan Kanwil Kemenag Jawa Timur. Sementara itu, petugas dari kementerian haji diprioritaskan untuk mengisi kuota internal kabupaten.
“Kalau petugas kesehatan itu scope-nya Jawa Timur. Tapi kalau dari Kementerian Haji itu hanya se-kabupaten. Jadi butuhnya enam, ya enam dari Tulungagung,” tegasnya.
Disinggung mengenai progres Petugas Haji Daerah (PHD) yang berasal dari unsur pemerintah kabupaten, Suryani mengungkapkan, bahwa tahapan seleksi baru saja dilalui oleh para peserta di Sukolilo, Surabaya. Hingga saat ini, pihaknya masih menunggu hasil resmi dari pusat terkait siapa saja yang berhak mendapatkan tiket sebagai pendamping jamaah di tanah suci tahun ini.
“PHD kemarin baru tes. Jadi kemarin tes di Sukolilo. Belum ada pengumuman sampai sekarang,” tandasnya. (dit/ari)




