MainBeritaTulungagung – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Tulungagung menyoroti sistem keberangkatan angkutan umum bus yang dinilai tidak sehat dan berpotensi menimbulkan kecelakaan. Sorotan ini disampaikan dalam audiensi bersama lintas sektoral di ruang aspirasi DPRD Tulungagung, Selasa (11/11).
Audiensi tersebut dihadiri perwakilan dari Polres Tulungagung, Dinas Perhubungan Kabupaten dan Provinsi Jawa Timur, serta pihak PO Harapan Jaya. Pertemuan ini menjadi tindak lanjut pasca kecelakaan tragis Bus Harapan Jaya yang menewaskan dua mahasiswa UIN Satu Tulungagung asal Jombang beberapa waktu lalu.
Ketua PMII Tulungagung, Ahsanur Rizqi, menilai sistem keberangkatan antarbus yang terlalu rapat menjadi salah satu faktor pemicu sopir ngebut di jalan. “Jam trayek yang mepet hanya berjarak lima menit. Ini jelas berpotensi menimbulkan kecelakaan karena sopir saling kejar setoran,” ujarnya.
Menurut Rizqi, akar persoalan bukan hanya pada perilaku sopir, tetapi juga sistem yang menekan mereka. “Sopir itu juga korban dari sistem yang tidak sehat. Kalau tidak segera dievaluasi, nyawa penumpang yang jadi taruhannya,” paparnya.
Ia menegaskan bahwa kejadian maut yang menewaskan dua mahasiswa tersebut harus menjadi titik balik perbaikan keselamatan transportasi. “Nyawa dua mahasiswa itu tidak bisa digantikan dengan apapun. Ini momentum untuk membenahi sistem agar hal serupa tak terulang,” tambahnya.
Sementara itu, Agung Heru Sasongko, Kasi Sarana Angkutan Umum Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur, menyampaikan bahwa pemerintah provinsi telah menyiapkan langkah tegas terhadap perusahaan otobus yang lalai. “Jika dalam enam bulan ke depan terjadi kecelakaan lagi, izin trayek bisa dicabut,” tegasnya.
Agung juga membeberkan, bahwa pihaknya akan menerapkan sistem geofence sebagai upaya pencegahan kecelakaan. Sistem ini akan membatasi kecepatan bus di wilayah perkotaan maksimal 60 km/jam, dan akan muncul notifikasi peringatan jika sopir melampaui batas tersebut.
Namun, ia mengakui penerapan kebijakan ini masih membutuhkan waktu. “Progresnya tidak bisa instan seperti pesan makanan yang langsung datang. Kami perlu koordinasi teknis dengan PO Bus Harapan Jaya dan Bagong. Bulan depan kami jadwalkan pertemuan lanjutan,” pungkasnya.
Langkah ini diharapkan mampu menjadi titik terang dalam perbaikan sistem transportasi umum di Tulungagung, agar keselamatan penumpang tidak lagi dikorbankan demi kejar waktu dan setoran. (ari)



