Home Berita Kesehatan Sembilan Siswa SMK Sore Tumbang Usai Santap MBG, Dinkes Lakukan Investigasi 3×24...

Sembilan Siswa SMK Sore Tumbang Usai Santap MBG, Dinkes Lakukan Investigasi 3×24 Jam

MainBeritaTulungagung – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Bumi Lawadan kembali dibayangi dugaan kasus keracunan massal. Pada Kamis (22/1) siang, suasana di SMK Sore Tulungagung mendadak genting setelah sembilan orang siswa harus dilarikan ke Puskesmas Beji. Mereka mengeluhkan gejala mual, pusing, hingga diare yang muncul beberapa jam setelah mengonsumsi paket makanan yang didistribusikan ke sekolah tersebut.

Salah seorang siswa kelas X Teknik Sepeda Motor (TSM), Farhan Surya Putra, menjadi salah satu korban yang harus mendapatkan penanganan medis. Farhan menceritakan, bahwa gejala yang ia rasakan tidak muncul secara spontan sesaat setelah menyantap makanan, melainkan ada jeda waktu hingga rasa tidak nyaman mulai menyerang kondisi fisiknya.

“Mual-mual sama pusing,” aku Farhan saat ditemui di sela-sela perawatan di Puskesmas Beji. Ia menjelaskan bahwa menu yang ia santap siang itu terdiri dari beberapa jenis lauk-pauk dan buah-buahan. “Ikan patin, terus ada sayur, kedelai, sama jeruk,” imbuhnya merinci isi paket MBG yang diterimanya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, paket makanan tersebut diketahui berasal dari penyedia SPPG Moyoketen 1. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tulungagung langsung bergerak cepat menanggapi laporan tersebut.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Tulungagung, dr Aris Setiawan, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menerima laporan terkait adanya siswa dari SMK Sore yang mengalami gejala klinis menyerupai keracunan makanan, mulai dari mual, muntah, hingga diare.

“Ini tadi kita coba melakukan analisa juga dari siswa-siswa ini, ini tadi ada yang mengkonsumsi dari salah satu produk dapur. Namun demikian kita saat ini masih melakukan telaah atau kajian lebih lanjutnya apakah memang itu dari makanan itu sendiri atau dari yang lain,” terang Aris.

Pihak Dinkes juga menemukan fakta menarik terkait adanya perubahan jadwal distribusi makanan di lapangan. Seharusnya, menu tersebut didistribusikan pada pagi hari, namun pada praktiknya terjadi perubahan jadwal sehingga makanan baru dibagikan untuk menu makan siang.

Faktor ini, ditambah dengan adanya laporan bahwa beberapa siswa sempat membeli jajanan di luar lingkungan sekolah, menjadi variabel yang sedang ditelaah lebih jauh oleh tim investigasi.

“Saat ini kami juga masih melakukan investigasi juga apakah memang ini murni dari permasalahan pencernaan yang timbul akibat konsumsi dari menu di MBG ataukah dari yang lain,” tegasnya.

Guna mengantisipasi adanya korban tambahan, Dinkes Tulungagung menyatakan akan terus melakukan pemantauan ketat di lingkungan sekolah maupun puskesmas. Mengingat masa inkubasi bakteri atau zat tertentu yang bisa bervariasi, pengawasan akan dilakukan dalam kurun waktu beberapa hari ke depan.

“Seperti kejadian sudah-sudah, kita tetap memantau, kita waspada paling tidak sampai 3×24 jam ke depan. Kita tidak tahu jenis kalau misalkan bakterinya seperti apa, kalau misalkan apa mungkin ada pertambahan kasusnya kita juga tetap pantau,” pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak sekolah dan penyedia makanan belum memberikan keterangan resmi lebih lanjut, sementara sampel makanan dari lokasi kejadian telah diamankan untuk dilakukan uji laboratorium.

Lalu, hingga Kamis malam juga belum ada laporan penambahan jumlah siswa yang mengalami keracunan. Meski begitu, Dinkes dan pihak terkait tetap bersiaga, mengingat potensi munculnya korban susulan terbilang tinggi. (dit/ari))

Exit mobile version