Bab 2: Dua Dunia yang Berbeda
Hari keberangkatan Gina datang lebih cepat dari yang Angga harapkan.
Stasiun Kediri dipenuhi oleh para calon pekerja migran, wajah-wajah penuh harapan dan kecemasan. Angga menggenggam tangan Gina erat.
“Jaga diri baik-baik, jangan gampang percaya sama orang di sana,” ucapnya.
Gina mengangguk. “Kamu juga, jangan terlalu sibuk sampai lupa makan. Dan… jaga anak-anak kita.”
Kereta yang akan membawanya ke Jakarta mulai bergerak. Angga berdiri di peron, hatinya terasa hampa.
Itu pertama kalinya dalam hidupnya ia merasa benar-benar kehilangan sesuatu yang berharga.
Hari-hari berikutnya terasa berat. Angga tetap mengelola toserba, merawat anak-anak mereka, dan mencoba menjalani hari seperti biasa. Tapi malam selalu jadi waktu tersulit.

