CATATAN PAPA DESA #1 : DARI DESA MENJELAJAH DUNIA

wkwkwkwk…

Setelah sekian lama Catatan Papa Desa tertidur entah di laci mana, akhirnya saya memutuskan untuk membangunkannya lagi.

Bukan karena saya sudah menjadi lebih pintar.

Bukan pula karena saya sudah menemukan jawaban dari semua pertanyaan hidup yang kadang muncul menjelang tidur.

Tapi karena saya sadar, ternyata ada banyak cerita yang belum sempat dituliskan.

Cerita-cerita itu tersimpan di dalam ribuan foto, potongan tiket perjalanan, buku catatan yang mulai menguning, dan ingatan yang kadang muncul tiba-tiba saat sedang menyeruput kopi.

Beberapa tahun lalu, saya mendapat kesempatan berpetualang cukup jauh dari kampung halaman.

Jauh sekali.

Kurang lebih 30 negara pernah saya singgahi. Dari Turki yang berdiri di antara dua benua, negara-negara Skandinavia yang dinginnya membuat saya rindu matahari Tulungagung, hingga Perancis yang selama ini hanya saya lihat lewat film dan buku pelajaran.

Baca Juga  Fotografer, Daya Tarik Tersendiri di Balik Serunya Event Lari

Tapi tenang…

Tulisan ini tidak akan membahas bagaimana cara menjadi backpacker sukses, tidak akan memberi daftar tempat wisata terbaik, dan mungkin juga tidak terlalu banyak membahas bangunan-bangunan terkenal yang sering muncul di kartu pos.

Karena yang paling membekas bagi saya justru hal-hal kecil.

Tentang orang-orang yang saya temui.

Tentang budaya yang berbeda.

Tentang kebiasaan yang membuat saya heran.

Tentang kesunyian yang membuat saya rindu rumah.

Dan tentang satu pertanyaan yang terus muncul selama perjalanan:

Mengapa setelah melihat begitu banyak tempat, justru kampung halaman terasa semakin berharga?

Mungkin karena sejauh apa pun kita berjalan, selalu ada satu tempat yang menjadi titik pulang.

Baca Juga  Perjalanan Bersepeda Menyusuri Keindahan Alam Menuju Pulau Ora

Dan bagi saya, tempat itu adalah desa.

Maka mulai hari ini, Catatan Papa Desa akan mengajak kalian ikut berkeliling.

Bukan untuk mencari negara mana yang paling indah.

Melainkan untuk melihat bagaimana dunia bekerja dari sudut pandang seorang anak desa yang kebetulan tersesat cukup jauh dari rumahnya.

Kalau tidak ada halangan, pada catatan berikutnya kita akan memulai perjalanan dari negara pertama.

Sebuah negeri yang menjadi gerbang antara Asia dan Eropa.

Sebuah negeri yang mengajarkan saya bahwa perbedaan ternyata bisa hidup berdampingan.

Turki.

Sampai jumpa di perjalanan pertama.

Salam dari Papa Desa.

Yan Christanto 05 Juni 2026

- Advertisment -spot_img

Most Popular