Catatan Papa Desa #2 Landing di Ankara, Menyapa Dingin Pertama Kali

Mainberita – Tanggal 27 November 2023 menjadi salah satu tanggal yang akan selalu saya ingat. Setelah berjam-jam berada di dalam pesawat, akhirnya roda pesawat menyentuh landasan di Ankara, ibu kota Turki.

Bagi sebagian orang, mendarat di negara lain mungkin hal biasa. Namun bagi saya, seorang anak desa dari Tulungagung, itu adalah momen yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Ada rasa senang, gugup, penasaran, sekaligus tidak percaya bahwa kaki ini benar-benar akan menginjak tanah yang selama ini hanya saya lihat di buku pelajaran dan layar televisi.

Begitu pintu pesawat terbuka, pengalaman pertama langsung datang menyapa.

Dingin.

Bukan dingin seperti saat musim hujan di kampung. Bukan pula dingin ketika naik ke pegunungan. Ini dingin yang benar-benar berbeda. Udara dengan suhu sekitar 5 derajat Celsius seolah menyelinap masuk melalui setiap celah pakaian yang saya kenakan.

Baca Juga  Menaklukkan Tanjakan Menantang dan Menyegarkan di Petirtaan Jolotundo

Saya yang lahir dan besar di negara tropis tentu belum pernah berhadapan dengan suhu seperti itu. Nafas terasa berbeda, kulit terasa lebih kering, dan tangan sesekali refleks masuk ke saku jaket mencari kehangatan.

Dalam hati saya sempat tersenyum sendiri.

“Oh, jadi seperti ini rasanya musim dingin.”

Setelah proses kedatangan selesai, saya dijemput oleh tim yang sudah menunggu di luar bandara. Perjalanan menuju kota menjadi kesempatan pertama menikmati pemandangan Ankara. Langit tampak pucat, udara terasa bersih, dan lalu lintas berjalan tertib. Semuanya terlihat berbeda dari yang biasa saya temui di Indonesia.

Namun kejutan berikutnya ternyata bukan berasal dari pemandangan kota, melainkan dari meja makan.

Karena waktu sudah mendekati jam makan, saya langsung diajak menuju sebuah rumah makan khas Turki. Di sanalah saya berkenalan dengan salah satu kuliner yang selama ini hanya saya dengar namanya: kebab Turki asli.

Baca Juga  Aratu No Matsuri Vol.3 Siap Digelar, Festival Jejepangan Terbesar di Tulungagung Kembali Memberikan Warna di Kota Marmer!

Selama ini saya mengira kebab yang dijual di Indonesia sudah cukup mewakili cita rasa Turki. Ternyata saya keliru.

Kebab yang tersaji di depan saya hadir dengan aroma rempah yang kuat, daging yang lembut, serta porsi yang jauh lebih besar dari bayangan saya. Tidak hanya itu, tersedia pula hidangan lamb atau daging domba yang dimasak dengan sangat baik hingga nyaris tidak menyisakan aroma prengus yang sering dikhawatirkan banyak orang Indonesia.

Sebagai orang desa yang baru pertama kali tiba di negeri orang, saya memilih menikmati semuanya tanpa banyak teori. Saya hanya mengikuti satu prinsip sederhana: cicipi dulu, urusan suka atau tidak belakangan.

Dan hasilnya?

Saya menambah lagi.

Makan siang itu kemudian ditutup dengan segelas kecil teh Turki yang mereka sebut çay. Disajikan dalam gelas mungil berbentuk menyerupai bunga tulip, warnanya merah pekat, tanpa susu, namun memiliki rasa yang hangat dan menenangkan.

Baca Juga  Perjalanan Bersepeda Menyusuri Keindahan Alam Menuju Pulau Ora

Di tengah udara Ankara yang dingin, secangkir çay terasa seperti sambutan hangat dari negeri yang baru saja saya datangi.

Saat menyeruput teh itu, saya tiba-tiba teringat kampung halaman.

Rasanya aneh. Jarak ribuan kilometer memisahkan saya dari Tulungagung, tetapi justru pada saat itulah saya menyadari betapa luasnya dunia yang selama ini hanya saya bayangkan.

Perjalanan baru saja dimulai.

Ankara menjadi pintu pertama yang membuka lembar petualangan panjang seorang papa desa menjelajahi Eropa. Dan dari kota inilah saya belajar bahwa terkadang pelajaran terbesar dari sebuah perjalanan bukanlah tentang tempat yang kita kunjungi, melainkan tentang kemampuan kita untuk beradaptasi dengan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah kita kenal.

Termasuk belajar berdamai dengan suhu 5 derajat Celsius dan secangkir teh panas bernama çay.

- Advertisment -spot_img

Most Popular