Catatan Papa Desa #3 Salju Pertama di Depan Kedubes RI Ankara

Yan Christanto – Mainberita

Ada banyak hal yang saya lihat untuk pertama kalinya selama perjalanan ke luar negeri. Namun dari sekian banyak pengalaman itu, ada satu momen yang sampai hari ini masih tersimpan rapi di sudut ingatan saya: melihat salju turun untuk pertama kalinya.

Pagi itu saya berada di depan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Ankara, Turki. Udara terasa jauh lebih dingin dibanding yang pernah saya rasakan di kampung halaman. Langit berwarna abu-abu, seolah sedang menyiapkan sesuatu.

Lalu perlahan, butiran-butiran putih itu mulai turun dari langit.

Awalnya saya hanya berdiri diam. Memastikan bahwa yang saya lihat benar-benar salju, bukan hujan biasa atau serpihan debu yang terbawa angin. Semakin lama, semakin banyak. Butiran kecil itu menari pelan sebelum akhirnya menyentuh tanah.

Baca Juga  Fotografer, Daya Tarik Tersendiri di Balik Serunya Event Lari

Entah mengapa, saat itu saya seperti kembali menjadi anak kecil.

Anak desa yang tumbuh di pinggiran kabupaten. Anak yang setiap liburan sekolah duduk di depan televisi menonton film-film luar negeri. Salah satunya adalah Home Alone. Dalam ingatan saya, film itu selalu identik dengan musim dingin, jaket tebal, pohon tanpa daun, dan salju yang turun di halaman rumah.

Dulu saya sering bertanya-tanya dalam hati, bagaimana rasanya menyentuh salju? Apakah dinginnya benar-benar seperti yang terlihat di televisi?

Pertanyaan itu akhirnya terjawab bertahun-tahun kemudian, ribuan kilometer dari desa tempat saya dibesarkan.

Di depan Kedubes RI Ankara.

Saya menengadahkan wajah ke langit dan membiarkan beberapa butiran salju jatuh di tangan. Sebagian langsung mencair. Sebagian lagi menempel sesaat sebelum menghilang.

Baca Juga  Blitar Mengawali Musim Durian, Yuks Berkunjung ke Blitar!

Saat itulah saya menyadari sesuatu.

Mungkin tanpa saya ingat, momen ini pernah menjadi bagian dari doa-doa masa kecil saya. Doa yang sederhana. Doa seorang anak desa yang ingin melihat dunia lebih luas dari yang bisa ia lihat dari halaman rumahnya.

Dan hari itu, doa itu dijawab.

Tidak hanya salju yang membuat saya takjub. Di depan kediaman Duta Besar terdapat sebuah kolam yang permukaannya membeku. Saya menyentuhnya perlahan. Keras. Dingin. Benar-benar berbeda dengan air yang selama ini saya kenal.

Saya tersenyum sendiri.

Betapa anehnya hidup. Dulu saya hanya melihat pemandangan seperti ini dari layar televisi. Kini saya berdiri tepat di hadapannya.

Baca Juga  Dari Acapulco ke Dunia : Kisah Lahirnya Olahraga Padel

Namun kekaguman ternyata punya batas.

Beberapa menit kemudian, tubuh mulai mengirimkan sinyal. Jari-jari tangan terasa kaku. Hidung mulai memerah. Angin dingin menembus jaket yang saya kenakan. Saya masih ingin menikmati salju lebih lama, tetapi tubuh punya pendapat lain.

Saya mulai kedinginan.

Saat itulah saya sadar bahwa salju memang indah untuk dilihat, tetapi tidak selalu nyaman untuk dirasakan.

Meski begitu, rasa dingin hari itu tidak mampu mengalahkan rasa syukur yang memenuhi hati saya.

Karena bagi sebagian orang, salju mungkin hanya cuaca biasa.

Tetapi bagi seorang anak desa dari pinggiran kabupaten, melihat salju turun untuk pertama kalinya adalah pengingat bahwa mimpi-mimpi kecil pun bisa menemukan jalannya sendiri untuk menjadi kenyataan.

- Advertisment -spot_img

Most Popular