Isu “bidaah” juga sering muncul dalam perdebatan di media sosial, ceramah, bahkan dalam relasi antarwarga. Konflik seputar amalan seperti tahlilan, maulidan, dan ziarah kubur masih menjadi topik sensitif.
Dalam konteks ini, serial Bidaah menjadi semacam cermin yang memperlihatkan bahwa perdebatan tentang otentisitas ajaran Islam bukan hanya terjadi di Malaysia, tetapi juga sangat relevan bagi umat Islam Indonesia.
Pengaruh Media terhadap Diskursus Keagamaan
Serial seperti Bidaah menunjukkan bagaimana media bisa menjadi arena pertarungan wacana keagamaan.
Ketika isu-isu seperti bidaah, pemurnian agama, dan peran tradisi dibawa ke ranah populer, mereka tidak hanya menjadi bahan tontonan, tapi juga memperkuat atau mengguncang keyakinan masyarakat.
Di Indonesia, tontonan seperti ini bisa memicu refleksi maupun reaksi keras, tergantung pada posisi ideologis penontonnya. Di satu sisi, bisa membuka ruang dialog. Di sisi lain, bisa memperkeruh polarisasi.
Serial Bidaah bukan hanya drama religi dari negeri tetangga. Ia adalah refleksi dari pergulatan ideologis yang juga terjadi di Indonesia.
Dengan masyarakat Muslim yang sangat plural, Indonesia menghadapi tantangan yang mirip: bagaimana menjaga harmoni antar-pemahaman Islam, tanpa mengorbankan kekayaan tradisi dan nilai toleransi yang telah lama mengakar. (*)

