Mainberita – Buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans tengah menjadi perbincangan luas di media sosial. Buku yang dibagikan secara gratis ini memuat kisah nyata pengalaman Aurelie sebagai korban grooming sejak usia remaja, sekaligus menjadi ruang refleksi, pemulihan, dan edukasi bagi perempuan muda.
Seiring viralnya buku tersebut, banyak pembaca penasaran dengan sosok-sosok yang disebut menggunakan inisial dan nama samaran di dalam cerita.
Pertanyaan tentang siapa orang-orang di balik inisial itu pun ramai dibahas, terutama karena kisah yang diangkat terasa begitu personal dan nyata.
Namun, Aurelie sejak awal menegaskan bahwa Broken Strings ditulis sepenuhnya dari sudut pandangnya sebagai korban.
Penggunaan inisial dan nama samaran dilakukan untuk melindungi privasi pihak-pihak terkait, sekaligus menjaga fokus pembaca pada pengalaman, dampak psikologis, dan proses pemulihan yang ia jalani, bukan pada identitas individu tertentu.
Dalam bab awal buku, Aurelie menceritakan pertemuannya dengan seorang pria bernama Bobby—nama samaran—yang ia kenal di lokasi syuting.
Pertemuan tersebut menjadi awal dari proses grooming yang kemudian berkembang menjadi relasi penuh manipulasi, kontrol emosional, dan ketergantungan psikologis.
Aurelie tidak merinci identitas asli tokoh tersebut dan secara sadar menghindari romantisasi atas pengalaman traumatis yang dialaminya.
Lewat akun Instagram pribadinya, Aurelie mengungkapkan alasan di balik keberaniannya membuka kisah ini ke publik.
Salah satu dorongan terbesarnya datang dari dukungan sang suami, Tyler Bigenho, yang sejak awal percaya bahwa cerita tersebut dapat membawa dampak positif bagi banyak perempuan muda.
“Dia percaya ceritaku bisa jadi sesuatu yang baik dan berarti buat banyak gadis muda lainnya,” tulis Aurelie dalam unggahannya.
Aurelie juga mengaku terkejut dengan respons publik terhadap bukunya. Ia menerima banyak pesan dari pembaca yang merasa lebih sadar, lebih berani, dan tidak lagi merasa sendirian setelah membaca Broken Strings.
Di tengah rasa penasaran publik terhadap sosok di balik inisial, Aurelie menegaskan bahwa tujuan utama buku ini bukan untuk membuka identitas atau mencari siapa yang salah, melainkan untuk mengedukasi tentang bagaimana grooming bisa terjadi secara halus, perlahan, dan sering kali tidak disadari oleh korban.
“Tentang manipulasi, kontrol, dan proses pelan-pelan belajar menyelamatkan diri sendiri,” tulis Aurelie dalam bukunya.
Melalui Broken Strings, Aurelie berharap pembaca—terutama perempuan muda—lebih waspada terhadap relasi yang tidak sehat, berani mempercayai insting diri sendiri, dan tidak takut bersuara ketika mengalami hal serupa. \
Buku ini menjadi pengingat bahwa fokus utama dari kisah ini bukanlah siapa orang-orang di balik inisial tersebut, melainkan keberanian seorang penyintas untuk bangkit dan berbagi demi mencegah luka yang sama terulang pada orang lain. (***)



