Kuliah Belum Kelar Tapi Feed Isinya ‘Marriage Goals’ di Tiktok, Ini Alasan Psikologisnya

Mainberita – Pernahkah Anda melihat linimasa media sosial seorang mahasiswi yang penuh dengan repost konten kemesraan suami-istri, resep masakan untuk suami, hingga tips menata rumah tangga?

Padahal, sosok di balik akun tersebut masih berusia belasan akhir atau awal 20-an, memiliki masa depan cerah, dan sedang dalam puncak masa studinya.

Fenomena ini sering membuat perempuan di usia pertengahan 20-an (25+) mengernyitkan dahi. “Dulu zaman gue kuliah, fokusnya organisasi dan ngejar IPK, kok sekarang trennya beda?” tanya salah satu netizen dalam sebuah diskusi viral.

Lantas, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa pendidikan seolah terpinggirkan oleh bayang-bayang pelaminan?

1. Jebakan “Algorithm of Romance”

Media sosial seperti TikTok dan Instagram memiliki algoritma yang sangat kuat. Sekali seorang gadis menyukai video daily life pasangan muda yang estetik, ia akan terus disuguhi konten serupa.

Baca Juga  Batu Akik Mustika Galih Kelor

Konten rumah tangga kini dikemas dengan sangat indah: rumah yang rapi, suami yang suportif (dan biasanya mapan), serta konflik yang tampak “lucu”. Hal ini menciptakan delusi bahwa pernikahan adalah solusi dari semua masalah kedewasaan.

2. Pernikahan Sebagai “Escape Plan” (Pelarian)

Bagi sebagian mahasiswa, tekanan akademik dan ketidakpastian dunia kerja setelah lulus bisa sangat melelahkan. Di titik ini, narasi “pengen jadi ibu rumah tangga aja” sering muncul sebagai bentuk pelarian.

Menikah dengan pria yang lebih tua (yang dianggap lebih stabil secara finansial) terlihat seperti “jalan pintas” untuk mendapatkan keamanan hidup tanpa harus berdarah-darah meniti karier dari nol.

3. Krisis Identitas dan Kebutuhan Validasi

Baca Juga  Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa ”Viral On The Trek”.

Di usia awal 20-an, seseorang sedang mencari identitas. Ketika ia menjalin hubungan dengan pria yang lebih dewasa, ia seringkali merasa “lebih matang” dari teman-sebaya.

Membagikan konten rumah tangga adalah cara mereka memvalidasi bahwa mereka sudah siap masuk ke dunia dewasa, meskipun secara mental dan kemandirian finansial mungkin belum sepenuhnya siap.

Pendidikan bukan sekadar selembar ijazah, melainkan tentang membentuk pola pikir. Ada beberapa hal yang perlu diingat sebelum terlalu jauh terhanyut dalam romantisasi rumah tangga di usia kuliah:

  • Dunia Tidak Se-estetik Konten TikTok: Konten yang lewat di fyp (For Your Page) hanya menampilkan 1% kebahagiaan. Sisi gelap seperti manajemen keuangan, adaptasi sifat, hingga urusan domestik yang melelahkan jarang ditampilkan.

  • Kemandirian Adalah Harga Diri: Menjadi wanita terpelajar dan memiliki penghasilan sendiri memberikan posisi tawar yang tinggi dalam sebuah hubungan. Jangan sampai “kebelet” menikah hanya karena silau dengan kemapanan pihak laki-laki.

  • Fase Usia Tidak Bisa Diulang: Masa kuliah adalah waktu terbaik untuk eksplorasi diri, memperluas relasi, dan mencoba banyak hal baru. Menikah terlalu dini berisiko membuat seseorang kehilangan fase pengembangan diri yang krusial.

Baca Juga  DM Dulu, Intens Lalu Asing: Ironi PDKT Gen Z di Tengah Kemudahan Media Sosial

“Jangan menukar masa depan yang penuh potensi hanya untuk status ‘istri’ di saat kamu bahkan belum selesai mengenal dirimu sendiri.” (jhn)

- Advertisment -spot_img

Most Popular