Umat Buddha, para biksu, dan peserta lainnya berjalan dengan hening dan penuh kesadaran (walking meditation), membawa dupa, bunga, dan lentera sebagai lambang penghormatan dan persembahan.
4. Puja Bakti dan Meditasi di Pelataran Borobudur
Sesampainya di Borobudur, umat mengikuti puja bakti dan meditasi bersama yang dipimpin oleh para biksu. Mereka merenungkan Tiga Peristiwa Suci: kelahiran Pangeran Siddhartha, pencapaiannya sebagai Buddha, dan wafatnya.
Kegiatan ini merupakan inti spiritual dari Waisak, yang mengajak umat untuk merefleksikan kehidupan dan menguatkan tekad dalam menjalankan Dharma.
5. Pelepasan Lampion ke Langit
Sebagai penutup, ribuan lampion dilepaskan ke langit malam dari area Borobudur. Lampion-lampion ini membawa harapan dan doa umat akan kedamaian, kebahagiaan, dan kebijaksanaan bagi seluruh makhluk. Ritual ini juga menjadi simbol melepaskan penderitaan dan menyambut pencerahan.
Waisak di Borobudur bukan hanya seremoni keagamaan, tapi juga momentum untuk membersihkan batin, memperkuat tekad spiritual, serta menyebarkan kasih sayang dan kedamaian kepada sesama makhluk.
Dengan latar kemegahan Candi Borobudur, perayaan ini menjadi perpaduan harmonis antara spiritualitas, budaya, dan tradisi Indonesia. (*)

