Ada juga contoh kalimat seperti, “Kamu manggilnya Papah, aku manggilnya Bapak.” Meskipun lucu, beberapa netizen menilai contoh ini kurang tepat karena lebih mengarah pada kebiasaan linguistik dibandingkan cerminan status ekonomi.
Kendati begitu, konten-konten seperti ini tetap menuai banyak interaksi dan masuk ke dalam algoritma tren TikTok.
Meski banyak yang menganggap tren ini lucu dan relatable, kritik pun bermunculan. Salah satunya dari pengguna X dengan akun @tan*** yang menyatakan bahwa menjadikan kesenjangan sosial sebagai bahan lelucon bisa jadi cerminan masyarakat yang sedang mencoba “coping” dari pahitnya kenyataan sosial-ekonomi.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana media sosial menjadi ruang tempat masyarakat menyuarakan keresahan lewat cara yang mudah diakses dan dikonsumsi—yaitu humor.
Namun, penting juga untuk mempertanyakan: sampai sejauh mana humor bisa dijadikan alat refleksi sosial tanpa meremehkan pengalaman hidup orang lain?
Keseimbangan antara menghibur dan menyadarkan, barangkali menjadi tantangan terbesar dari tren semacam ini. (*)

