Fiersa juga mengaku sulit membayangkan kemungkinan yang lebih buruk jika putrinya tidak sedang digendong saat kejadian. Aqia kemudian dibawa ke rumah sakit terdekat untuk menjalani pemeriksaan rontgen, sementara Ubay mengurus laporan polisi.
Meski sempat melapor, Fiersa akhirnya memutuskan untuk mencabut laporan tersebut. Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan permintaan Aqia dan masukan dari Ubay, yang menilai pelaku bukan berasal dari kalangan mampu.
Fiersa menyebut bahwa melanjutkan proses hukum berisiko menimbulkan dampak panjang, mulai dari penyitaan kendaraan hingga kerepotan administratif, tanpa jaminan ganti rugi bagi korban. Ia juga menilai proses tersebut berpotensi memicu dendam, bukan efek jera.
Meski laporan dicabut, pelaku tetap menerima sanksi tilang yang dijadwalkan disidang pada akhir Januari 2026. Bagi Aqia, hal itu dinilai sudah cukup. Fiersa pun menghormati keputusan istrinya, meski menegaskan bahwa pencabutan laporan tidak otomatis berarti memaafkan.
Fiersa juga mengungkap bahwa dirinya sebenarnya beberapa kali hampir terpancing emosi dan berkata keras. Namun, ia memilih menahan diri demi menghindari kesalahpahaman publik, terutama jika potongan video kejadian tersebar di media sosial tanpa konteks.
Menurut Fiersa, bersikap tenang adalah pilihan terbaik dalam situasi tersebut. Ia bahkan berseloroh bahwa responsnya bisa berbeda jika pelaku berusia jauh lebih muda. (***)

