Maka, ketika gelar Pahlawan Nasional akhirnya diberikan, bangsa ini seakan berhutang kata “maaf” sekaligus “terima kasih”.
Maaf, karena pengorbananmu terlalu lama dibiarkan tanpa pengakuan.
Terima kasih, karena keberanianmu telah menyalakan obor kesadaran bagi generasi sesudahmu.
Marsinah telah gugur, tetapi semangatnya tak pernah padam.
Ia kini abadi bukan hanya di prasasti penghargaan, tetapi di hati setiap insan yang percaya bahwa keadilan adalah hak semua manusia, bukan hak segelintir penguasa.
1 2

