Lewat akun Instagram pribadinya, Aurelie mengungkapkan alasan di balik keberaniannya membuka kisah ini ke publik.
Salah satu dorongan terbesarnya datang dari dukungan sang suami, Tyler Bigenho, yang sejak awal percaya bahwa cerita tersebut dapat membawa dampak positif bagi banyak perempuan muda.
“Dia percaya ceritaku bisa jadi sesuatu yang baik dan berarti buat banyak gadis muda lainnya,” tulis Aurelie dalam unggahannya.
Aurelie juga mengaku terkejut dengan respons publik terhadap bukunya. Ia menerima banyak pesan dari pembaca yang merasa lebih sadar, lebih berani, dan tidak lagi merasa sendirian setelah membaca Broken Strings.
Di tengah rasa penasaran publik terhadap sosok di balik inisial, Aurelie menegaskan bahwa tujuan utama buku ini bukan untuk membuka identitas atau mencari siapa yang salah, melainkan untuk mengedukasi tentang bagaimana grooming bisa terjadi secara halus, perlahan, dan sering kali tidak disadari oleh korban.
“Tentang manipulasi, kontrol, dan proses pelan-pelan belajar menyelamatkan diri sendiri,” tulis Aurelie dalam bukunya.
Melalui Broken Strings, Aurelie berharap pembaca—terutama perempuan muda—lebih waspada terhadap relasi yang tidak sehat, berani mempercayai insting diri sendiri, dan tidak takut bersuara ketika mengalami hal serupa. \
Buku ini menjadi pengingat bahwa fokus utama dari kisah ini bukanlah siapa orang-orang di balik inisial tersebut, melainkan keberanian seorang penyintas untuk bangkit dan berbagi demi mencegah luka yang sama terulang pada orang lain. (***)

